Setibanya pagi hari distasiun Senen kami berangkat berempat
yaitu Saya, Tomi, Rizky dan Ryan tujuan kita adalah untuk sampai dikota
Surabaya terlebih dahulu. Di gerbong satu kita membunuh waktu Lima belas jam
akhirnya tiba disurabaya pagi buta, ya dari sini perjalanan tentu akan kami
lanjutkan sambil menunggu kereta pagi untuk sampai Banyuwangi. Sore hari di
Banyuwangi kita putuskan untuk berjalan kaki menuju pelabuhan Katapang.
( St. Gubeng - Surabaya )
Yap! Hore kita keluar jawa pukul Enam sore setelah kapal
yang kita tumpangi mulus merapat dipelabuhan Gilimanuk, kondisi sudah gelap
lelah sekali hari itu yang saya rasakan. Padang bai kita harus kesana untuk
melanjutkan perjalanan, semuanya bergerak cepat pindah dari sarana transfortasi
satu ke transfomasi lain. Kami menunggu cukup lama sampai mini bus terisi penuh
dan berangkatlah kita ke terminal Ubung Bali setengah perjalan untuk sampai ke
Padang Bai, tengah malam waktu WITA seorang supir taksi dengan mulut yang
beraroma tuak mengantarkan kita ke pelauhan Padang Bai dengan kecepatan tinggi,
sungguh mengerikan. Under 30 menit bukan waktu yang normal untuk sampai ke
Padang Bai dengan menaiki taksi dari terminal Ubung, jika ingin merasakan
sensasinya carilah Kadir dia satu-satunya seorang supir Taksi muslim yang mangkal
diterminal Ubung katanya.
Memasuki hari ke 2 perjalanan sebentar lagi kita akan sampai
di Lombok. Rest… rest.. rest.. dari Padang Bai ke pelabuhan Lembar didalam
kapal kami gunakan untuk istirahat karna perjalan laut ini memakan waktu yang
lumayan lama sekitar 4 jam dilautan. Lombok terik hari itu padahal waktu belum
lama pagi dan akan beranjak siang, masih sekitar Sembilan pagi kita yang sedang
menunggu didepan mini market karna akan dijemput oleh saudaranya Tomi.
Alhamdullilah…. kita diberi tempat tinggal sementara sampai nanti menunggu Satu
orang lagi dan berangkat ke Rinjani.
Saya bertemu Ogay siang hari waktu itu kebetulan dia minta
dijemput diterminal sehabis melakukan trip panjang ke pulau komodo, saya tidak
peduli yang jelas dia ngaret dari waktu yang kita sudah sepakati. Sekarang kita
sudah berlima kita putuskan untuk berangkat sore itu juga, kami ngeteng
angkutan umum perjalanan cukup panjang dari Udayana menuju desa Sembalun memakan
waktu sekitar Dua setengah jam. Saya mendapatkan teman baru di Lombok ini karna
sebelumnya Tomi yang mencari informasi terkait status Gunung Rinjani yang
sedang erupsi, rencananya dia akan ikut mendaki bersama kami, tentu kami senang
dia juga tidak merepotkan team kami terlebih dia menguasai bahasa sasak Lombok
memudahkan dan menguntungkan kami tentunya dia adalah Azry Albeka selamat
bergabung dengan Karon Outdoor team.
Sampai di Base camp Sembalun pukul setengah Delapan malam
WITA, sebagian dari kami bersiap-siap dan Arzy mengurus regristrasi pendakian,
waktu itu team kami dihimbau untuk tidak mendaki sampai puncak Rinjani karna
keadaan yang belum kondusif, namun menurut info sejak saat pendakian dibuka
sejak hari senin saat kita baru tiba di Lombok sudah mulai ada pendaki yang
berada dikawasan ini. Sekarang pukul Depalan malam pendakian kita mulai saya
biarkan Azry memimpin didepan yang disusul oleh Ryan, Rizky dan Tomi, kita
berjalan konstan dan masih semangat karna memang baru dimulai, jalan yang datar
namun sesekali menanjak kadang berkelok sepanjang malam sinar bintang juga
hadir pada saat itu memacu saya ingin lebih dekat lagi melihatnya. Setengah jam
perjalanan dingin waktu itu tidak terlalu terasa terbakar bersama energi yang
kita siapkan untuk sampai puncak Rinjani, ternyata kita salah jalan seketika janggal
untuk dilewati kita banyak memanjat batu-batuan tinggi. Jangan diteruskan, saya
yang menyobek kertas-kertas kecil untuk ditaburkan dijalan sebagai tanda karna
tidak ingin melangkah lebih jauh akhirnya kita sepakat untuk putar balik, saat
itu barulah kita sadar kalau ternyata jalan itu kurang terlihat dari pandangan
kita. Lumayan mencuri start akhirnya tengah malam kita putuskan untuk
beristirahat menunggu pagi dan melanjutkan perjalan.
( Ryan - Azry - Dilli - Tomi - Rizky - Ogay )
Camp pertama dikawasan Rinjani disambut sebuah motor petani
yang akan memasuki hutan juga ada segerombolan monyet yang terlihat sedang asik
mencari makan. Kami lanjutkan perjalan kita akan berhenti di Pos 2 dan mengisi
air minum, tidak terasa Dua jam berjalan tibalah kita di Pos 2 dan saya
langsung turun untuk mengisi air karna persedian air ternyata sudah akan habis
duluan. Ya Tuhan air sangat keruh, kotor dan berjentik sepertinya saya akan
menahan aus ketimbang harus meminumnya, tapi yang saya lihat ada seorang porter
yang tetap mengambil air dari sumber air tersebut. “gapapa bang ini buat
dimasak aman emang agak keruh saja airnya” yasudah ini hanya untuk berjaga-jaga
saja airnya.
Istirahat cukup dipos 2 tempat pendaki banyak melakukan
istirahat udaranya memang kadang sedikit menghentak jika terlalu lama
beristirahat akan jadi malas untuk melanjutkan perjalanan, kami berlima
akhirnya melanjutkan perjanan menuju pos 3 sangatlah indah sepanjang perjalanan
ini mata seakan benar-benar dimanjakan. Sudah hampir siang akhirnya sampai
juga, kedatangan kita dipos 3 disambut Tiga ekor anak Anjing lucu mereka
menghampiri kita namun seperti takut, mungkin karna saya berambut gondrong.
Berbagi makanan sedikit dengan Anjing kecil ini sungguh mengasikan, ketika ada
seorang Bule yang mendaki menanyakan Anjing siapa namun spontan celetukan saya
“ this dog searching food ” teman-teman tertawa karna bahasa inggris saya yang
asal-asalan.
pict by : Ogay
Meneruskan perjalanan pos 3 adalah pos terakhir jalur
pendakian via Sembalun, ini dia dari sini jalan menanjak seakan-akan tidak ada
habisnya. Yaaaaap!! Bukit penyesalan… karna tenaga kita sudah menulai menurut
terlebih team tidak memutuskan untuk masak di pos 3 tadi sekarang formasi kita
agak sedikit berantakan, Azry dan Ryan cukup konstan berada didepan sambil
sesekali saya menyusul dari belakang sementara Tomi yang sudah sering minta
rest bersama Ogay dan Rizky selalu memback up mereka. Saya mulai mengeluh juga
beberapa kali tertidur diperjalanan, cukup jauh dengan Tiga orang dibelakang
itu, setelah sadar ternyata mereka membalap saya, kita sekarang jadi jalan
berempat Ryan dan Azry mereka sudah didepan,kapan tanjakan ini selesai dalam
hati saya kadang bukit didepan itu terlihat akhir namun ternyata masih ada
bukit lagi dan benar saja saya menyesal naik Rinjani waktu itu. Beberapa menit
saya tersusul rombongan belakang saya putuskan untuk mengejar Azry dan Ryan
waktu itu kabut turun mengurangi jarak pandang untungnya mereka tersusul dan
saya sekarang berada didepan bersama mereka yang disusul Tomi beberapa saat.
Pelawangan sembalun jam setengah Enam sore WITA berkabut dan
dingin bergegas mendirikan tenda untuk istirahat. Saya, Azry, Tomi dan Ryan
adalah orang yang sudah sampai disini dan mulai mendirikan tenda, ketika tenda
1 sudah hampir selesai kita bangun datanglah Rizky membawa kabar “ Ogay gak kuat,
minta dijemput dia udah gak kuat bawa Carrier “ pekerjaan yang belum selesai
itu akhirnya saya tinggal dan pergi kebawah menjeput Ogay yang sedang duduk
lemas, karna udara lumayan dingin saya suruh dia tetap jalan sambil membawakan
Carrier miliknya. Membangun tenda kedua dan mempersiapkan makan malam akhirnya
team kami semua beristirahat.
pict by : Tomy
Selamat pagi sepertinya sarapan sangat kurang hari ini dan
sudah akan siang tentunya, rencananya kita akan pergi kepuncak jam Sembilan
pagi setelah Ryan, Rizki, Tomi dan Azry mengambil persedian air untuk kita
minum. Ogay tidak ikut kepuncak ditemani Oleh Ryan karna kondisi yang kurang
fit kemarin mereka putuskan untuk pergi kepuncak esok pagi buta. Dari
pelawangan Sembalun menuju puncak Rinjani memakan waktu sekitar Empat jam normal,
sebelumnya kita memang dihimbau untuk tidak sampai puncak, namun tadi pagi
pendaki asal Malaysia dengan porternya terlihat berangkat menuju puncak juga
ada pendaki asal kota Padang yang kemarin bercerita bahwa mereka sudah sampai
puncak Rinjani.
Kita berempat mulai meninggalkan Ogay dan Ryan yang menunggu
di camp, cuaca yang lumayan hangat waktu itu seperti ingin memacu laju kaki
yang ingin singgah dipuncak Rinjani. Tanjakan berpasir Lima Belas menit
berjalan kita memasuki kawasan menuju
puncak dari sini mulai terasa perjalanan karna yang kita tapaki terkadang
merosot jadi memerlukan 2 kali tenaga untuk sampai dipundukan yang pertama.
Akhirnya kita berhasil melewati tanjakan pasir dengan waktu kurang lebih Satu
jam, puncak memang terlihat dekat dari sini hanya “terlihat dekat” tidak ingin
terlalu lama kita teruskan perjalanan dengan hati yang terkadang mengeluh
terlebih kita tidak membawa makanan waktu itu. Beberapa kali istirahat dan saya
tertidur disepanjang track, terbangun, jalan, tidur lagi tanpa disadari kabut
mulai menutupi jalan kita.
( Rizky - Dilli - Tomy )
Samar – samar ketika ada bayangan menembus kabut, perut kami
keroncongan. Selama perjalan baru ini saya melihat ada orang turun dari puncak
dan mencoba meminta makan kecil yang ia punya tetapi tidak ada yasudah saya hanya
meminjam korek akhirnya. Hari itu seperti sengsara buat apa sebenarnya kita
jalan kepuncak? Didalam hati yang tidak karuan. Azry ternyata sudah didepan
dari tadi Tomi terus berdampingan dengan saya dan Rizky yang terlihat cukup tenang
berada dibelakang. Kabut seakan tidak punya perasaan dan awan mulai menutupi
langit, waktu itu saya masih cukup ngotot ingin muncak sebentar lagi karna
menurut pendaki yang baru turun hanya tinggal Tiga puluh menit lagi kita sampai
dipuncak. Kali ini saya kalah dan terpaksa harus turun, Azry yang tinggal
sedikit lagi ternyata terus naik begitu juga Rizky mengikuti dan tidak mau
turun bersama saya dan Tomi.
( Tomy - Dilli )
Turun kita berdua berjalan cepat sambil sesekali merunduk
dari gemuruh petir yang membuat cemas. Hujan turun cuaca berubah cepat kabut
enggan pergi, saya ketakutan namun berusaha tegar. Seketika basah baju yang
kita kenakan, menggigil kami yang meneduh dibalik batu, beberapa saat sambil
termenung hujan es batu pada waktu itu. Karna hujan terlalu lama dan dingin akhirnya
kita lanjutkan perjalanan turun sampai camp dengan sangat kelelahan.
Mengganti baju yang sudah basah tak lama kami langsung
disuguhkan makanan oleh Ogay dan dibuatkan kopi oleh Ryan, tidak lama selesai
makan Rizky dan Azry pun sampai di camp syukurlah mereka selamat melawan badai hujan
es batu. Waktu berganti malam kami semua istirahat dan Tomi berencana akan ikut
ke puncak besok pagi bersama Ogay dan Ryan.
Pukul Tiga pagi WITA saya ikut terbangun Ogay dan Ryan
sedang bersiap-siap disusul Tomi. Seketika berfikir saya datang jauh-jauh sudah
sampai sini, dan tidak tahu kapan bisa kembali lagi ke Rinjani. Tekad Tomi
untuk meneruskan kepuncak sudah bulat, saya masih duduk didalam tenda
menyaksikan mereka. Akhirnya saya putuskan untuk ikut jalan ke Puncak lagi,
Rizky dan Azry sampai dipuncak kemarin
kalau seandainya Ogay, Ryan, Tomi juga sampai dipuncak dan hanya saya yang
tidak sampai akan malu rasanya walaupun bukan puncak lah tujuan utama melainkan
sampai kerumah dengan selamat. Terus berjalan menapaki yang kemarin saya lalui
terasa sangat menyedihkan, ntah apa yang terus memacu langkah ini saya ingin
segera sampai dipuncak dan pulang. Ryan berjalan cepat berada Lima puluh meter
didepan saya, Ogay terlihat sangat kelelahan dan ingin menyerah, Tomi konstan
sesekali menyusul saya di Tanjakan terakhir puncak Rinjani. Ryan finish
pertama, saya dan Tomi datang setelah itu dilanjutkan Ogay tentunya, tangisan
penuh haru akhirnya puncak Rinjani saya taklukan penuh pengorbanan bersama
teman-teman meski saya gagal di langkah awal namun saya lanjutkan untuk
menggapainya walaupun harus dengan muntah-muntah.
( On The Top Mt. Rinjani )
Terimakasih
Tuhan juga teman-teman yang telah berjuang bersama-sama.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar