Sabtu, 04 April 2015

keluhan tentang kegiatan mainstream

    “gara-gara naik gunung jadi trend dan semainstream saat ini jadi banyak sampah dan bikin makin sulit karna pendaki jadi makin membludak ngurus perizinan jadi makin repot gak kaya dulu.” Mungkin saya cukup setuju dengan keluhan salah satu teman di topik kali ini, mengingat bahwa ternyata sekarang  saya jadi buka bisnis perentalan alat-alat hiking dan camping karna setahun lalu menerima ajakan seorang teman untuk menemaninya naik gunung. Tapi saya tidak tau bagaimana percis kondisi gunung waktu itu saat olahraga hiking belum menjadi trend seperti saat ini.

    Apa mungkin karna sebuah film yang menceritakan tentang sebuah persahabatan diatas gunung tertinggi di Jawa? Saya kira itu memang jadi salah satu indikasi kenapa olahraga hiking ini jadi banyak diminati walaupun sebelumnya ada beberapa film yang terlebih dahulu yang menceritakan tentang alam/pegunungan seperti yang saya ketahui “Pencarian Terakhir, Vertical Limit, The North Face” sampai acara talk show yang memperbincangkan tentang 7 summit dunia yang diwakili oleh pendaki wanadri sebagai sumber bicara, juga munculnya sosok tokoh Herman Lantang di TV seorang sahabat Soe Hok Gie sesama pendaki di Mapala UI dulu yang bercerita kedekatannya dengan Gie karipnya.

    Hiking/naik gunung mungkin memang sudah menjadi trend saat ini, tapi yasudahlah apa bedanya dengan trend Batu Akik yang sedang merebak sekarang ini sampai anak bocah sekolah dasar pun pernah saya pergoki memakai Batu Akik walaupun hanya ikut-ikutan orang saja. Apa yang terjadi saat ini mungkin sudah menjadi biasa karna trend tercipta hanya jika ada pihak yang memulai, termaksuk saya ketika memutuskan untuk mencoba bersetubuh dengan alam tahun lalu.

    Trend ini juga saya rasa disadari oleh banyak orang yang tiba-tiba membuka trip pendakian masal, banyaknya toko outdoor gear yang bermunculan, bahkan teman sekolah menengah atas saya pun sekarang jadi buka perentalan alat-alat hiking seperti saya karna melihat antusias olahraga ini berpotensial untuk memajukan ekonominya sendiri. Terlihat juga dari beberapa gunung yang sudah menaikan tarif harga pendakian misalnya Gn. Cermai yang mematok Rp. 50.000,- untuk sekali pendakiannya juga Gn. Gedepangrango yang menaikan tarif dari Rp.17.500,- menjadi Rp. 32.500,- permalamnya, bagaimana dengan Gn. Semeru, Rinjani? Pasti mereka juga menaikan tarif harga apalagi kedua Gunung tersebut sudah menjadi Taman Nasional dan tempat favorit bagi para pendaki.

    Suka tidak suka ya inilah toh seramai apapun gunung yang kita kunjungi udaranya tetap akan terasa dingin, masih akan tetap menanjak jalan dilalui. Sekarang mungkin bukan waktunya mengkritik ataupun menganggap olahraga ini hanya sekedar ikut-ikutan saja dan fasis akan hal itu, sekarang adalah waktunya untuk menjaga tempat itu dari tangan-tangan usil yang mencoba merusaknya.

Salam Rimba. Go Outdoor!!!

1 komentar:

  1. bikin campaign dong tentang kebersihan dan pelestarian alam lewat toko penyewaan alat outdoornya, biar enggak karon. salamlekum rimba!

    BalasHapus