“gara-gara naik gunung jadi trend dan semainstream saat ini
jadi banyak sampah dan bikin makin sulit karna pendaki jadi makin membludak
ngurus perizinan jadi makin repot gak kaya dulu.” Mungkin saya cukup setuju
dengan keluhan salah satu teman di topik kali ini, mengingat bahwa ternyata
sekarang saya jadi buka bisnis
perentalan alat-alat hiking dan camping karna setahun lalu menerima ajakan
seorang teman untuk menemaninya naik gunung. Tapi saya tidak tau bagaimana
percis kondisi gunung waktu itu saat olahraga hiking belum menjadi trend
seperti saat ini.
Apa mungkin karna sebuah film yang menceritakan tentang
sebuah persahabatan diatas gunung tertinggi di Jawa? Saya kira itu memang jadi
salah satu indikasi kenapa olahraga hiking ini jadi banyak diminati walaupun
sebelumnya ada beberapa film yang terlebih dahulu yang menceritakan tentang alam/pegunungan
seperti yang saya ketahui “Pencarian Terakhir, Vertical Limit, The North Face”
sampai acara talk show yang memperbincangkan tentang 7 summit dunia yang diwakili
oleh pendaki wanadri sebagai sumber bicara, juga munculnya sosok tokoh Herman
Lantang di TV seorang sahabat Soe Hok Gie sesama pendaki di Mapala UI dulu yang
bercerita kedekatannya dengan Gie karipnya.
Hiking/naik gunung mungkin memang sudah menjadi trend saat
ini, tapi yasudahlah apa bedanya dengan trend Batu Akik yang sedang merebak
sekarang ini sampai anak bocah sekolah dasar pun pernah saya pergoki memakai
Batu Akik walaupun hanya ikut-ikutan orang saja. Apa yang terjadi saat ini
mungkin sudah menjadi biasa karna trend tercipta hanya jika ada pihak yang
memulai, termaksuk saya ketika memutuskan untuk mencoba bersetubuh dengan alam
tahun lalu.
Trend ini juga saya rasa disadari oleh banyak orang yang
tiba-tiba membuka trip pendakian masal, banyaknya toko outdoor gear yang
bermunculan, bahkan teman sekolah menengah atas saya pun sekarang jadi buka
perentalan alat-alat hiking seperti saya karna melihat antusias olahraga ini
berpotensial untuk memajukan ekonominya sendiri. Terlihat juga dari beberapa
gunung yang sudah menaikan tarif harga pendakian misalnya Gn. Cermai yang
mematok Rp. 50.000,- untuk sekali pendakiannya juga Gn. Gedepangrango yang
menaikan tarif dari Rp.17.500,- menjadi Rp. 32.500,- permalamnya, bagaimana
dengan Gn. Semeru, Rinjani? Pasti mereka juga menaikan tarif harga apalagi
kedua Gunung tersebut sudah menjadi Taman Nasional dan tempat favorit bagi para
pendaki.
Suka tidak suka ya inilah toh seramai apapun gunung yang
kita kunjungi udaranya tetap akan terasa dingin, masih akan tetap menanjak jalan
dilalui. Sekarang mungkin bukan waktunya mengkritik ataupun menganggap olahraga
ini hanya sekedar ikut-ikutan saja dan fasis akan hal itu, sekarang adalah waktunya untuk menjaga tempat itu dari
tangan-tangan usil yang mencoba merusaknya.
Salam Rimba. Go Outdoor!!!
bikin campaign dong tentang kebersihan dan pelestarian alam lewat toko penyewaan alat outdoornya, biar enggak karon. salamlekum rimba!
BalasHapus