Minggu, 08 November 2015

Hidden Paradise

    Sebelum lupa beberapa hari yang lalu kembali menjelajah kabupaten Bogor, mencari surga alam terpencil dikawasan Sentul. Curug adalah wisata yang sedang laris manis pada musim kemarau dan Bogor masih jadi tempat yang sejuk warga kota Jakarta untuk menjamah pergi kesana. Dikawasan curug Leuwi Hejo, Liek dan Curug Barong masih tersembunyi curug yang indah dan konon Curug ini belum ada yang menamainya.

    Begitu indah tempat ini, dan cukup masuk akal untuk melihat keindahannya memang membutuhkan sedikit tenaga dan jiwa petualang. Menelusuri sungai kurang lebih Satu jam dan sesekali memasuki pinggiran hutan yang rapat dengan alang-alang adalah jalan yang harus ditempuh untuk dapat bermain ditempat ini, bisa dibayangkan curug ini sangat jarang ada yang menghampiri dari ke Tiga curug yang terkenal dikawasan itu. Beruntungnya saat itu saya dan beberapa teman hanya kita yang berada ditempat tanpa ada satu orang lain pun, seperti bermain dicurug pribadi surga alami.


taken by: Ody

inframe: Ogay, Pionk, Bembem, Ody, Dilli, Mangai

keep Clean Jika kalian berkunjung ketempat ini Brads.....

Selasa, 01 September 2015

Guntur Kemarau

    Musim kemarau akhir Agustus kebakaran hutan dibeberapa gunung menjadi sorotan, cuaca super panas dan kelalaian manusia mungkin saja jadi sumbernya. Pemberitaan seorang pendaki wanita yang meninggal digunung Semeru akibat tertimpa batu pun tidak kalah ramainya.

    Kemarin tepatnya hari Jumat tanggal 28 Agustus sebelum libur semester genap kami berakhir. Kali ini ketiga kalinya saya bermain-main kekota garut dan sebelumnya kekota ini masih dengan tujuan yang sama yaitu hiking atau naik gunung.

    Gunung Guntur berketinggian 2249mdpl gunung terendah di Kota Garut selain Papandayan dan Cikuray. Kami sampai pukul 3 dini hari, beristirahat adalah cara mempersiapkan fisik untuk nantinya hiking dipagi hari, team kami bertujuh dan semua diantara kami adalah pertama mendaki Guntur. Start mulai menanjak dengan level middle dan debu yang berterbangan akibat pijakan kaki dan mobil truck para penambang batu membuat nafas sesak dalam paru-paru, baff masker, kaca mata, topi, dan sun block adalah bagian penting sekarang.

    Gunung Guntur memilikin 3 pos untuk sebelum sampai kepuncaknya, pos 1 adalah base camp awal pendaki mendaftarkan dirinya dari sini menuju pos 2 kurang lebih waktu yang diperlukan sekitar 1 jam, di pos 2 terdapat curug dan mata air disini pendaki bisa mengisi kembali persediannya airnya. Setengah 10 siang team kami melanjutkan perjalan menuju pos 3 cuaca sangat terik, kami melewati sisa kebakaran hutan disini team banyak melakukan rest selain menanjak tenaga kami terkuras oleh panasnya matahari, dipos 3 terdapat sumber air dan  camp ranger yang menjual souvenir gunung Guntur.

    Tanpa ampun dari pos 3 menuju puncak jalan menanjak sangat curam sekaligus terik, jalan pasir berbatu 3 langkah kaki maju sama dengan 1 langkah kaki mundur, saya sadar ditempat ini benar-benar nyawa lah taruhannya apabila terpeleset akibat kurang fokus atau bercanda yang tak sewajarnya. Guntur memiliki banyak puncak, jika fisik mendukung tentu 2 puncak pun tidak jadi masalah namun bagi team kali ini puncak 1 pun sudah cukup melihat bahwa tenaga kami banyak terkuras dan sudah malas. Puncak 1 sebelumnya saat kami masih di base camp, ada pemberitahuan bahwa dipuncak 1 terdapat babi, babi-babi itu keluar dari hutan dan mencari makan disekitaran pucak 1 kadang menghampiri tenda pendaki, kejadian itu kami alami 4 ekor babi berada dibelakang tenda kami yang pada saat itu kami sedang memepersiapkan makan malam, babi itu tidak mengganggu kata seorang bapak tua saat kami melakukan pendaftaran pendakian,

jangan sekali-kali ditimpuk atau mengganggu babi cuman cari makan. Biarkan saja nanti mereka akan pergi sendiri, kalau diganggu malah akan menyerang dan tambah banyak babi yang datang karna mereka bergerombol disuatu tempat

    Jujur saya panik dan langsung masuk kedalam tenda untuk berlindung, setelah makan malam sebentar saya menikmati bulan dan bintang diatas awan yang sedang cerah-cerahnya, lagi-lagi city light kota garut jelas terlihat dari puncak 1 mt. Guntur.

    Minggu pagi pukul 9 kami turun, panas datang lebih dulu diatas kepala. Hati-hati dan menjaga jarak antar team cara aman untuk selamat, pasang teliga pasang mata tetap fokus apabila ada teriakan dari atas mengenai batu yang jatuh dari atas untuk menghindar.

Selamat mencoba kawan.....

moon light and city light
photo by: Ariq

JUBERS team
( Ariq - Iqbal - Yusuf - Ody - Okta - Dilli - Brian )

Puncak 2 view inframe Dilli x KARON OUTDOOR
photo by: Ariq

JUBER TEAM

inframe ( Dilli - Ody )
photo by: Ariq

Kamis, 06 Agustus 2015

Leuwi Hejo, Hejo pisan

    Padahal senin hari yang dimana kesibukan tertuju kepada kenistaan kota yang penuh dendam. Sangat berdeba ditempat ini, pikir saya weekdays adalah hari yang baik selain menghindari kepadatan ditempat wisata tentunya. Leuwi hejo terletak dikota Bogor Desa Cibadak kec. Sukamakmur, tidak begitu jauh dan  sulit diakses masih sangat nyaman untuk dikunjungin dengan motoran saja.

    Rencana saya sebenarnya ingin riding dengan Vespa dan teman-teman, tiba-tiba ide muncul dan rasanya asik juga berenang dicurug. Start pukul setengah Sepuluh dan sampai pada pukul Dua Belas siang dengan posisi top gear The New Biru Api tentunya, melewati tanjakan dan turunan dengan jalan yang agak rusak sudah tidak sabar ingin mencoba airnya yang menggoda dipandang mata.

photo by; Me
photo by: hutomopy

inframe:
( Tomy - Vanda - Vita - Ody - Hanum - Dilli - Dwi - Imam )

photo by: Hanum

jumping Spot
photo by : Hanum

    Harga ekonomis gak bikin kantong tipis, harga tiket masuk ketempat ini Rp. 10.000,-/orang dengan tambahan Rp. 5.000,- didalam area wisata curug Leuwi Hejo. Parkir kendaraan sepeda Motor Rp. 5.000 dan mobil Rp. 10.000,- 

Himabawan pengunjung mari taatin
photo by; Me

Selamat bersenang-senang.



Jumat, 24 Juli 2015

Pari Island

Fitri dipulau Pari

    Happy birthday my friends Rivo Setya Gerindra dan minal aidzin walfaizin buat temen-temen semuanya mohon maaf lahir dan batin. Seperti pada tahun tahun sebelumnya saya tidak pernah mudik karna memang orang asli betawi jadi sehabis lebaran yasudahlah menikmati kota Jakarta yang sepi. Ditempat yang setiap harinya kami berkumpul di Rusong Sport n Entertainment sebagian teman-teman memang tidak pulau kekampungnya lalu kita semua bersiatat untuk sepakat berliburan bersama kepulau saja.

    Pulau Pari atau Pari Island ini pertama kalinya saya kesini. Termasuk bagian dari kepulauan seribu pulau yang berpenduduk ini banyak memikat hati warga kota Jakarta untuk berlibur bersama teman maupun keluarga. Jika ingin ke Pulau Pari pertama kita harus menuju pelabuhan Muara Angke tempat penyebrangan menuju pulau ini, tarif penyebrangan hanya Rp. 40.000,- dan waktu yang ditempuh sekitar Dua jam berlayar dilautan lepas. Begitu sampai dipulau banyak home stay dengan berbagai fasilitasnya yang dibandrol mulai dari Rp. 500.000,- permalamnya. Namun jika keberatan dengan harga sewa home stay kalian juga bisa berkemah dipinggir pantai yang syahdu hanya dengan Rp. 10.000,- perorang kalian sudah bisa mendirikan tenda dan bermalam dipulau pari. 

Pulau yang cukup indah untuk pergi bertamasya dengan orang-orang tercinta.

"Pari Island Virgin Beach" photo by: Shita

"Camping Ground Karon Outdoor" photo by: Me

"Kapal besar penumpang Muara Angke - P. Pari" photo by: Me

"Sunset" photo by: Me

"Sunrise in frame Ryan Nigga" photo by: Me


Senin, 06 Juli 2015

Middle Mountain Munara

    Terletak dikota Bogor Kabupaten Rumpin, siapa sangka ada situs sejarah gunung Munara. 

"Situs Puncak Gunung Munara, awalnya memang hanya akrab/identik ditelinga para peziarah goa-goa, situs-situs dan semacamnya. Konon tempat ini memang sering kedatangan tamu saat hari-hari tertentu, baik sebagai tempat pemujaan maupun semedi dll."


    Tempat ini mulai laris manis dikunjungi pelancong, selain karna situs sejarahnya tempat ini juga merupakan tempat yang cukup ideal jika ingin mencoba hiking dengan membawa pasangan “wanita” karna gunung ini cukup cepat untuk mencapai puncaknya, hanya dengan waktu Satu setengah sampai Dua jam berjalan jika memulai tracking subuh hari kita bisa menyaksikan terbitnya matahari saat sampai dipuncaknya. Tidak sedikit juga yang berkemah di Munara, namun saran saya jika memang berniat untuk  berkemah datanglah lebih pagi, Munara tidak banyak mempunya lapak untuk mendirikan tenda siapa yang cepat dialah yang dapat.

parkiran motor & registrasi wisata
(photo by: Dilli)

(photo by: Yogi)

(photo by: Dilli)
Sunrise
(photo by: Dilli)


selamat mencoba, salam lestari.

Green Canyon Pangandaran

    Bulan suci terlewatkan kembali fitri tentu harapan. Hari raya kini tiba setelah itu libur datang. Kali ini wacana saya didengar yang lain setuju dengan opsi tambahan dari yang lain. Saya tau Green Canyon dari seorang teman dikampus, ceritanya seperti seru dengan tempat itu dan saya ingin mencobanya.

    Sehabis lebaran hari ke-tiga kita semua sepakat akhirnya kita berangkat. Perjalanan dimulai pukul setengah Enam pagi dan tiba pukul Tujuh malam, kita pergi berdelapan dengan 4 motor matic jepangan.

    Selamat pagi Pangandaran liburan baru akan dimulai. Pertama-tama mari mulai dengan bermain air dipantai Pangandaran.

photo by: pemilik kapal

    Tidak perlu lama untuk berada dipantai, selain kondisi dipantai yang sudah mulai membosankan terlebih ramai rencana untuk body rafting kita pun harus terealisasikan. Dengan perlengkapan keselamatan dan standarisasi rafting ayo kita telusuri sungai ini yang kurang lebih 10 km atau sekitar Empat jam berenang.
Metting Point
Inframe: Iqbal - Rio - Ariq - Yogi - Bryan - Rivo - Ryan - Dilli
photo by: Porter
Start Point
photo by: Porter
photo by: Porter
photo by: Porter
photo by: Porter


Serukan? Let's go!!! Visit Pangandara.






Sabtu, 04 April 2015

keluhan tentang kegiatan mainstream

    “gara-gara naik gunung jadi trend dan semainstream saat ini jadi banyak sampah dan bikin makin sulit karna pendaki jadi makin membludak ngurus perizinan jadi makin repot gak kaya dulu.” Mungkin saya cukup setuju dengan keluhan salah satu teman di topik kali ini, mengingat bahwa ternyata sekarang  saya jadi buka bisnis perentalan alat-alat hiking dan camping karna setahun lalu menerima ajakan seorang teman untuk menemaninya naik gunung. Tapi saya tidak tau bagaimana percis kondisi gunung waktu itu saat olahraga hiking belum menjadi trend seperti saat ini.

    Apa mungkin karna sebuah film yang menceritakan tentang sebuah persahabatan diatas gunung tertinggi di Jawa? Saya kira itu memang jadi salah satu indikasi kenapa olahraga hiking ini jadi banyak diminati walaupun sebelumnya ada beberapa film yang terlebih dahulu yang menceritakan tentang alam/pegunungan seperti yang saya ketahui “Pencarian Terakhir, Vertical Limit, The North Face” sampai acara talk show yang memperbincangkan tentang 7 summit dunia yang diwakili oleh pendaki wanadri sebagai sumber bicara, juga munculnya sosok tokoh Herman Lantang di TV seorang sahabat Soe Hok Gie sesama pendaki di Mapala UI dulu yang bercerita kedekatannya dengan Gie karipnya.

    Hiking/naik gunung mungkin memang sudah menjadi trend saat ini, tapi yasudahlah apa bedanya dengan trend Batu Akik yang sedang merebak sekarang ini sampai anak bocah sekolah dasar pun pernah saya pergoki memakai Batu Akik walaupun hanya ikut-ikutan orang saja. Apa yang terjadi saat ini mungkin sudah menjadi biasa karna trend tercipta hanya jika ada pihak yang memulai, termaksuk saya ketika memutuskan untuk mencoba bersetubuh dengan alam tahun lalu.

    Trend ini juga saya rasa disadari oleh banyak orang yang tiba-tiba membuka trip pendakian masal, banyaknya toko outdoor gear yang bermunculan, bahkan teman sekolah menengah atas saya pun sekarang jadi buka perentalan alat-alat hiking seperti saya karna melihat antusias olahraga ini berpotensial untuk memajukan ekonominya sendiri. Terlihat juga dari beberapa gunung yang sudah menaikan tarif harga pendakian misalnya Gn. Cermai yang mematok Rp. 50.000,- untuk sekali pendakiannya juga Gn. Gedepangrango yang menaikan tarif dari Rp.17.500,- menjadi Rp. 32.500,- permalamnya, bagaimana dengan Gn. Semeru, Rinjani? Pasti mereka juga menaikan tarif harga apalagi kedua Gunung tersebut sudah menjadi Taman Nasional dan tempat favorit bagi para pendaki.

    Suka tidak suka ya inilah toh seramai apapun gunung yang kita kunjungi udaranya tetap akan terasa dingin, masih akan tetap menanjak jalan dilalui. Sekarang mungkin bukan waktunya mengkritik ataupun menganggap olahraga ini hanya sekedar ikut-ikutan saja dan fasis akan hal itu, sekarang adalah waktunya untuk menjaga tempat itu dari tangan-tangan usil yang mencoba merusaknya.

Salam Rimba. Go Outdoor!!!

Jumat, 27 Februari 2015

Jakarta - Bali - Jakarta. Bisa! Naik Vespa

    Sebagai seorang yang sudah lama menggunakan motor tua mungkin adalah mimpi jika motor tua yang ia punya dan sudah bertahun-tahun masih tetap bisa dipakai mulus dijalan raya dan berpergian jauh kemana inginnya melaju. Berjalan dirute yang sebelumnya pernah dilalui adalah keinginan dan juga sekaligus pertanyaan apakah kendaraan jenis scooter yang saya punya dari sekitar Tujuh tahun yang lalu sanggup untuk menembus pulau dewata Bali. Tertuju wacana apik dengan seorang teman untuk berlibur pada pertengahan tahun ke Bali setelah hari raya Idul Fitri, sebenarnya wacana ini memang plan saya diawal tahun sebelumnya untuk pergi ke Bali riding dengan Vespa bersama teman-teman “KATS” tapi apa boleh buat karna saya juga tidak ingin nekad jika harus riding sendirian Jakarta – Bali – Jakarta karna komunitas tersebut menggagalkan expedisi aspal ini.

    Berangkat dari ambisi yang terlalu membara seperti bensin yang terbakar sempura oleh pengapian dari koil dan busi yang implusif. Ingin melampaui rekor sebelumnya waktu itu Vespa super tahun 1977 milik saya karna sudah sampai Jogjakarta dipersilangan tahun 2013. 

    Ini adalah plan serius, yha ide ini tergagas dipikiran saya setelah Vespa saya jadi dari bengkel cat saya akan berangkat ke Bali sebagai selebrasinya. Wacana ini selalu saya perdengarkan keteman-teman rumah berharap ada yang mau ikut juga walaupun dengan menggunakan motor Jepangan/bebek tapi mayoritas mereka bilang “lo gila, nyiksa badan, belom Vespa lo mogok, klo kenapa-kenapa dijalan gimana, bis pantura kenceng-kenceng, nyapek-nyapein” beruntung punya partner yang tetap komitmen dan gak goyang sama hal ini akhirnya kita jadi riding ke Bali.

    Pagi itu sangat fitri dan nanti malam pukul Sembilan start awal kita dari depan rumah. Beberapa hari sebelum berangkat menuju Bali sperpart seperti ban dalam, tali gas, kopling, porseneling, bohlam, oli samping Dua botol, busi cadangan, jas hujan, kunci-kunci sudah selesai saya persiapkan dibox kiri. Akhirnya kami berangkat dengan saya yang terlebih dahulu memegang kendali scooter sampai masuk pantura, kebetulan malam itu hujan beberapa kilo sebelum pondok gede dan kita memakai jas hujan karna perjalan masih jauh dan baru dimulai, kalimalang memang malang untuk kita karna macet dan baru sampai sini saja tromol saya jadi kurang gigit karna basahnya air hujan, untungnya rem depan berfungsi selayaknya walaupun sedikit asing karna menggunakan rem depan Vespa. Cek point pertama adalah kota Cirebon, sekitar Delapan jam kalau mulus benar juga ternyata kita masuk Cirebon jam Empat pagi setelah riding dari pukul Sembilan malam disitu terasa dingin terterpa angin berjam-jam, akhirnya kami istirahat dan tidur dipelataran mesjid bersama pemudik motor yang juga sedang istirahat disana.

    Istirahat cukup, kita cuman tidur Dua jam kurang lebih dan jam Tujuh pagi langsung kita gas lagi. Comal macet parah karna jembatan putus pas lagi situasi akan rame dilintasi orang mudik “tjakep” kita jadi merembet pelan. Sekitar jam Sebelas siang kita sampe di Brebes dan makan soto Brebes pinggir jalan, kaga enak! Mungkin karna salah pilih tempat makan sepertinya. Lanjut jalan dari siangnya Brebes masih menelusuri pinggir pantura akhirnya sore hari kita sampe juga dikota Semarang, yap masih sesuai target dan perkiraan kita. Dari Semarang terpampang jelas plang hijau penunjuk arah selain kita bawa peta pulau jawa, plang hijau adalah kiblat acuan saya sekarang. Malam sekitar jam Tujuh hari ke Dua sampai juga kita di Rembang disitu kita makan nasi Gandul klo kalian mampir ke Rembang cobain deh nasi Gandul. Jam Tujuh malam bagi kita masih sore lanjut lagi riding biar safety saya nyalain sticklamp buat tanda dari Rembang kita ganti Joki kayanya saya udah mulai capek didepan terus, cek point ke Dua adalah Suarabaya dari Rembang menuju Surabaya jalanan bener-bener sepi dan kita sering masuk hutan yang jarang banget ada yang lewat, apa lagi penerangan jalan masih seadanya, ngandelin lampu Vespa doang sukur-sukur bisa liat jalan, nah joki yang bawa klo malem wajib pake headlamp sebagai lampu tambahan, co-pilot juga pasang sticklamp buat tanda mobil yang didepan, bukan jalanan berlobang yang kita takutin tapi disamber mobil dari depan sebenernya klo kita gak bisa ngasih tanda cahaya pas malem hari riding. Akhirnya kita sampe di Surabaya jam Dua pagi dan itu sudah masuk hari ke Tiga Surabaya kota bersih pantes aja wali kota Risma jadi sanjungan dibanyak media, setelah nyerah nyari tugu buaya sama hiu akhirnya jam Tiga pagi kita istirahat dipinggir jalan beralaskan matras dan sleeping bag disitu kita terlelap agak lama kurang lebih Empat jam.

    Selamat pagi Surabaya dan ini sudah hari ke-Tiga kita, pagi ini prepare kita hanya membereskan bekas tidur semalam dan langsung menerjang aspal kembali, dari Surabaya terpampang jelas plang menuju Banyuwangi target kita sampai dikota itu sore agar malam harinya kita sudah sampai diriuh pulau Bali, diperjalanan co-pilot bilang kalau ada salah satu teman juga yang akan berlibur bersama keluarganya. Pagi ini saya kembali yang pegang kendali kemudi hanya beberapa jam kita berhasil keluar dari kota Surabaya, jalanan memang lurus dan renggang tapi gersang membakar kulit dan ambisi agar cepat sampai tujuan. Apa salahnya saat diperjalanan sambil menikmati kearifan lokal penduduk atau anugrah tuhan menata alam, mata ini tertuju oleh torehan tulisan Wisata Lumpur ternyata kita sudah sampai di Sidoarjo kurang dari Dua jam riding, kita menepi kepinggir kiri untuk melihat tragedy alam yang belum selesai permasalahannya sampai sekarang, musibah yang cukup menghancurkan banyak hati penduduk setempat. Ketika sampai dan membayar Lima Ribu Rupiah kepada palang pintu, saya langsung melihat lautan lumpur yang katanya masih ada yang aktif menyembur ntah sampai kapan atau ntah sampai berapa luas lagi akan membentuk lautan dan berapa orang lagi yang akan termakan pilu musibah ini, saya hanya berdoa semoga musibah ini akan cepat berakhir dan tidak meluas lagi. Kita teruskan lagi perjalanan ini jam demi jam beringingan dengan waktu yang tak mungkin mundur, kabupaten ke kabupaten kita lewati,  ladang dan sawah, pabrik-pabrik yang serakah berdiri, juga hembusan angin pantai yang kadang membuat kita bergoyang, gunung yang seakan selalu mengikuti laju motor ini. Situbondo angin laut mu sangat menawan memanggil kita untuk singgah sesaat, bukan untuk menikmati pinggir pantaimu yang panas tentunya karna Vespa saya tiba-tiba meradang ditempat karna drat tromol belakang habis terkikis dan saya tidak sadar, selepas dari Sidoarjo saya minta tukar dengan co pilot. Ini pertama kalinya saya mendapat masalah seperti ini dan seketika panik, masih untungnya ini bukan malam hari dan ditengah hutan. Saya yang panik langsung menelfon berharap minta bantuan, tempat itu jauh dari bengkel dan anak Vespa yang lewat sehingga salah satunya adalah memperbaiki sendiri, berkutak-kutik untuk menambah derat akhirnya serabut rem belakang saya potong dan saya selipkan perlahan-lahan akhirnya setelah Empat jam Vespa saya bisa kembali ke aspal hehehe. Pas saya berkabar via telfon sebenarnya saya tidak disarankan untuk melanjutkan perjalanan, karna beberapa jam didepan saya akan melewati hutan dan disitu mereka bilang itu hutan yang angker juga begal, dari trouble itu kendali saya yang pegang lagi, mengurangi kecepatan mungkin adalah cara agar kita bisa tetap sampai tanpa ada trouble lagi berhubung juga jalan yang semakin gelap karna sudah akan memasuki magrib.

    Sebelum masuk hutan kita cari pom bensin. Oli samping yang saya bawa Dua botol ternyata kurang, akhirnya saya putuskan untuk beli Satu botol lagi setelah isi bensin kita prepare lagi sticklamp dan headlamp kita nyalakan sebagai tambahan penerangan kurang dari Tiga Puluh Menit kita masuk hutan Baluran, saya rasa ini tanjakan pertama selama perjalanan karna kita lewat pantura yang hanya lurus saja itu membosankan, mulai menanjak tentu hati ini ngeri-ngeri sedap karna dikilo meter pertama hutan ini juga ada stand mie sedap. Ntah apa yang menarik perhatian saya untuk melihat ke atas, ternyata ada banyak bintang yang ikut menemani melalui hutan ini, mempertegas saya untuk harus keluar dari hutan ini kurang dari Dua jam, jalanan sangat gelap jarang ada yang melalui jalan ini pas malam hari mobil pun melibas habis tidak kurang dari Enam Puluh kilo meter perjam, statis tidak pelan tidak ngebut karna selain tromol yang sore tadi bermasalah juga jarak pandang saya yang sulit dikontrol menjadi perhitungan saya untuk tetap safety akhirnya kita keluar hutan Satu setengah jam dan tos kebahagiaan. Yeah! Setelah dari ini selamat datang Banyuwangi yang dijalannya beberapa kali seperti disambut dengan kembang api penduduk lokal, memasuki kota ini kita hanya menikmati malam dengan tidak terlalu terburu-buru dan akhirnya kita sampai di Pelabuhan Ketapang Delapan malam. Im coming Bali……..

    Setelah mengantri untuk menyebrang akhirnya kita sudah masuk didalam kapal, Satu jam untuk menyebrang Ketapang - Gilimanuk turun dari kapal sempat berapa menit direpotkan aparat yang berjaga dipos pelabuhan, secara hukum pajak kendaraan yang mati tidak ada sangkut pautnya dengan aparat kepolisian hanya kecot sedikit akhirnya kita melanjutkan perjalan ke Bali kota. Hawa di Bali terasa beda begitu kita turun kapal ternyata masih ada hutan yang harus kita lalui, dari Gilimanuk ke Bali kota lumayan memakan waktu sekitar Empat jam, saya yang sudah kelelahan bawa motor dari Situbondo mengajak tukar posisi, disitu saya mengantuk parah karna tidur yang diporsir minim mengejar waktu terlebih dikemarin malamnya sebelum masuk Surabaya saya sempat mengigau dimotor akhirnya saya menyarankan untuk tidur, selama diperjalanan sudah masuk Bali angin seperti kuat sekali menerpa badan ini sebelah kanan tidak nampak apa-apa karna gelap hanya hembusan angin yang rutin dan pasti, seketika sudah tidak kuat menahan untuk tertidur akhirnya kita menemukan posko mudik dan tempatnya sangat lumayan untuk beristirahat akhirnya kita menuntaskan kelelahan sampai besok paginya.

    Bangun tidur paling berbeda selain saya sudah sampai Bali akhirnya, ketika melihat kebelakan tempat semalam kita beristirahat ada pantai yang indah bersama riuh ombak melambai. Prepare kita percepat pagi itu dan langsung bergegas kembali, semalam saya yang disarankan untuk mencari tromol di Bali karna kejadian ini tidak ingin bertambah parah ketika pulang nanti, akhirnya sembari menuju bali kota singgahlah kita di D’ayam bengkel Vespa dipelosokan kabupaten Bali, disitu saya minta tolong tromol bekas pun tidak apa-apa setidaknya agar kita Empat hari kedepan bisa pulang lagi kerumah. Lagi-lagi ini kearifan local penduduk yang baik hati tromol dijual tidak terlalu mahal kalau tidak salah hanya Empat puluh ribu rupiah waktu itu. Kuta Rock City sampai juga dipantai ini, norak sekali memang untuk orang yang baru pertama ke Bali seperti saya langsung foto didepan tugu pantai Kuta bersama Vespa dan memamerkannya ke grup KATS ini adalah pembuktian Dua hari setengah perjalanan dan saya berhasil sampai juga.

    Have fun have fun have fun, itu yang harus kita lakukan sekarang. Masuk kedalam pantai Kuta langsung saya ceburkan badan ini dan bermain bersama ombak tidak lama memang karna fokus saya terpecah antara ombak dan tourist yang sedang asik berjemur dengan bikininya. Terlalu lama ditempat ini juga tidak baik karna kita di Bali cuman akan sampai besok siang, sore itu kita menuju GWK tidak disangka biaya masuk wisata patung ini mahal sekali Lima puluh ribu rupiah untuk domestik, akhirnya kita hanya didepan dan beralih kebawah patung yang masih akan dibangun. Mencari mini market untuk santai sejenak, tidak lengkap tanpa si botol kaca dan sore itu kita bersulang merayakannya. Malam itu kita kembali ke Bali kota, berhubung seorang teman dan keluarganya juga ada disini kita sambangin untuk bertemu kebetulan dia berjanji akan mentraktir makan apapun di Bali jika kita benar sampai dengan Vespa. Akhirnya makan mahal juga setelah berapa hari dijalan kita makan seadanya saja, beer gratis, rokok dan snack gratis terbayar sudah dipantai Kuta yang pasang. Bali bergema dengan caranya sendiri untuk menikmati malam, buat yang pergi dengan fasion gembel seperti kita tentu uang adalah batas agar bisa sampai pulang lagi. Malam itu kita tidur didepan home stay teman kita, bangun tidur disambut teh hangat juga roti bakar gratisan home stay. Sebelom terlalu siang kita prepare buat cabut dari Bali dan pamit sama kedua orang tua temen kita, tapi masih ada Satu tempat lagi yang pengen kita kunjungin di Bali yaitu Tanah Lot sekalian beli oleh-oleh dipasar seni dan terusnya kita pulang. Siang sekitar Dua belas kita udah cabut menuju pelabuhan, dari Tanah Lot kepelabulan Gilimanuk saya gas abis Cuma Tiga jam waktu perjalan, dijalan pulang indah banget gak kaya malem pas kita sampe di Bali waktu itu menepi diaspal kiri laut Bali Indonesia memang luar biasa. Pas banget jam Enam sore kita udah dipelabulan Ketapang klo enggak cepet digas nanti kita masuk hutan Baluran keburu malam, ditengah perjalanan hutan yang lebat ternyata gelap lebih cepat datangnya dan dihutan itu lagi banyak bintang yang menemani perjalanan kita. Cek point hari ini kita harus sampe di Surabaya lagi, selepasnya dari Probolinggo saya minta tukeran karna udah capek bawa motor akhirnya co-pilot lah yang bawa saya menuju cek point di Surabaya, malem ini sampe di Surabaya saya penasaran sama yang namanya Gang Dolly tempat prostitusi terbesar se-Asia katanya akhirnya setelah browsing alamat Dolly kita menuju kesana, jangan berfikir negative dulu saya hanya ingin melihat bagaimana tempat itu karna peberitaan yang terus menerus sebelum bulan puasa itu lah yang menyebabkan saya ingin tahu bagaimana sebenarnya tempat prostitusi itu, pas kita sampai disana ternyata Dolly memang sudah tutup hanya ada kios-kios kecil yang buka tanpa ada PSK yang mangkal disana dan malam itu setelah melihat-lihat kita keluar dari gang Dolly dan mencari pom bensin untuk tidur.

    Sekarang bangun tidur jadi agak lebih siang, mungkin karna kita berdua sudah kelelahan akhirnya sekitar pukul Delapan pagi kita lanjut lagi hari ini kita harus udah sampe diperbatas Jawa tengah, tetap berusaha konstan malam hari sekitar jam Tujuh kita udah di Semarang kota yang saya ingat saya lewat depan Lawang Sewu penjara peninggalan Belanda kita gak mampir hanya numpang lewat saja, lanjut dan saya gak tau klo kita lewat Alas Roban malam hari, Alas Roban rame banget jadi ketutup cerita mistisnya disitu saya mengantuk parah dan sering tertidur. Keluar Alas Roban kita disekitar jam Sebelas malam dan langsung mencari tempat buat istirahat kembali, sekarang kaya lebih gak maksain ngeliat kondisi yang emang udah capek akhirnya kita tidur dipinggir jalan samping pom bensin lebih awal. Pagi besoknya gak pake banyak cerita kita langsung gas lagi, jalanan macet parah sama arus balik mudik benar-benar merembet pelan kita naik motor saja kaya udah enggak bisa nyelip karna padet gimana mobil yang harus stag. Gak berasa kita udah sampe di Tegal, pertama kali sama makan Warteg yang bener-bener di kota Tegal, sama aja sih rasanya cuman unik aja hehehe. Karawang hari ke Tujuh udah sampe sini kayanya langsung pengen goyang Karawang aja perasaan kemaren masih di Bali dan sebentar lagi sampe di Bekasi, pas Di Karawang Vespa saya kehabisan bensin tengah malem untung ada anak Vespa yang bantuin kita dorong sampe bensin eceran dari situ kita jalan santai dan kembali kerumah.

    Sebenarnya bukan Bali yang mau saya ceritakan disini, tapi prosesnya lah untuk sampai ke Bali dengan Vespa. Bisa saja saya sebenarnya ke Bali dengan naik pesawat atau ngeteng kereta, bis dan kapal. Namun disini sebenarnya konsepsi kebahagiaan saya terwujud, rasa lelah perjalan terbayar dengan cerita ini yang akan saya selalu banggakan sampai kapan pun.

(Ogay - Dilli) photo by; Dilli
(Dilli) photo by; Ogay
(trouble) photo by; Dilli
(Ogay - Dilli) photo by: Elub
(Ogay - Dilli) photo by; Minta Tolong
Tanah Lot (Ogay - Dilli) photo by: Minta Tolong

foto-foto lainnya silakan cek dibawah ini.