Sebagai seorang yang sudah lama
menggunakan motor tua mungkin adalah mimpi jika motor tua yang ia punya dan
sudah bertahun-tahun masih tetap bisa dipakai mulus dijalan raya dan berpergian
jauh kemana inginnya melaju. Berjalan dirute yang sebelumnya pernah dilalui
adalah keinginan dan juga sekaligus pertanyaan apakah kendaraan jenis scooter
yang saya punya dari sekitar Tujuh tahun yang lalu sanggup untuk menembus pulau
dewata Bali. Tertuju wacana apik dengan seorang teman untuk berlibur pada
pertengahan tahun ke Bali setelah hari raya Idul Fitri, sebenarnya wacana ini
memang plan saya diawal tahun sebelumnya untuk pergi ke Bali riding dengan
Vespa bersama teman-teman “KATS” tapi apa boleh buat karna saya juga tidak
ingin nekad jika harus riding sendirian Jakarta – Bali – Jakarta karna
komunitas tersebut menggagalkan expedisi aspal ini.
Berangkat dari ambisi yang terlalu
membara seperti bensin yang terbakar sempura oleh pengapian dari koil dan busi
yang implusif. Ingin melampaui rekor sebelumnya waktu itu Vespa super tahun
1977 milik saya karna sudah sampai Jogjakarta dipersilangan tahun 2013.
Ini adalah plan serius, yha ide ini
tergagas dipikiran saya setelah Vespa saya jadi dari bengkel cat saya akan
berangkat ke Bali sebagai selebrasinya. Wacana ini selalu saya perdengarkan
keteman-teman rumah berharap ada yang mau ikut juga walaupun dengan menggunakan
motor Jepangan/bebek tapi mayoritas mereka bilang “lo gila, nyiksa badan, belom
Vespa lo mogok, klo kenapa-kenapa dijalan gimana, bis pantura kenceng-kenceng,
nyapek-nyapein” beruntung punya partner yang tetap komitmen dan gak goyang sama
hal ini akhirnya kita jadi riding ke Bali.
Pagi itu sangat fitri dan nanti
malam pukul Sembilan start awal kita dari depan rumah. Beberapa hari sebelum
berangkat menuju Bali sperpart seperti ban dalam, tali gas, kopling, porseneling,
bohlam, oli samping Dua botol, busi cadangan, jas hujan, kunci-kunci sudah
selesai saya persiapkan dibox kiri. Akhirnya kami berangkat dengan saya yang
terlebih dahulu memegang kendali scooter sampai masuk pantura, kebetulan malam
itu hujan beberapa kilo sebelum pondok gede dan kita memakai jas hujan karna
perjalan masih jauh dan baru dimulai, kalimalang memang malang untuk kita karna
macet dan baru sampai sini saja tromol saya jadi kurang gigit karna basahnya
air hujan, untungnya rem depan berfungsi selayaknya walaupun sedikit asing
karna menggunakan rem depan Vespa. Cek point pertama adalah kota Cirebon,
sekitar Delapan jam kalau mulus benar juga ternyata kita masuk Cirebon jam
Empat pagi setelah riding dari pukul Sembilan malam disitu terasa dingin
terterpa angin berjam-jam, akhirnya kami istirahat dan tidur dipelataran mesjid
bersama pemudik motor yang juga sedang istirahat disana.
Istirahat cukup, kita cuman tidur
Dua jam kurang lebih dan jam Tujuh pagi langsung kita gas lagi. Comal macet
parah karna jembatan putus pas lagi situasi akan rame dilintasi orang mudik
“tjakep” kita jadi merembet pelan. Sekitar jam Sebelas siang kita sampe di Brebes
dan makan soto Brebes pinggir jalan, kaga enak! Mungkin karna salah pilih
tempat makan sepertinya. Lanjut jalan dari siangnya Brebes masih menelusuri
pinggir pantura akhirnya sore hari kita sampe juga dikota Semarang, yap masih
sesuai target dan perkiraan kita. Dari Semarang terpampang jelas plang hijau
penunjuk arah selain kita bawa peta pulau jawa, plang hijau adalah kiblat acuan
saya sekarang. Malam sekitar jam Tujuh hari ke Dua sampai juga kita di Rembang
disitu kita makan nasi Gandul klo kalian mampir ke Rembang cobain deh nasi Gandul.
Jam Tujuh malam bagi kita masih sore lanjut lagi riding biar safety saya
nyalain sticklamp buat tanda dari Rembang kita ganti Joki kayanya saya udah
mulai capek didepan terus, cek point ke Dua adalah Suarabaya dari Rembang
menuju Surabaya jalanan bener-bener sepi dan kita sering masuk hutan yang
jarang banget ada yang lewat, apa lagi penerangan jalan masih seadanya,
ngandelin lampu Vespa doang sukur-sukur bisa liat jalan, nah joki yang bawa klo
malem wajib pake headlamp sebagai lampu tambahan, co-pilot juga pasang
sticklamp buat tanda mobil yang didepan, bukan jalanan berlobang yang kita
takutin tapi disamber mobil dari depan sebenernya klo kita gak bisa ngasih
tanda cahaya pas malem hari riding. Akhirnya kita sampe di Surabaya jam Dua pagi
dan itu sudah masuk hari ke Tiga Surabaya kota bersih pantes aja wali kota
Risma jadi sanjungan dibanyak media, setelah nyerah nyari tugu buaya sama hiu
akhirnya jam Tiga pagi kita istirahat dipinggir jalan beralaskan matras dan
sleeping bag disitu kita terlelap agak lama kurang lebih Empat jam.
Selamat pagi Surabaya dan ini sudah
hari ke-Tiga kita, pagi ini prepare kita hanya membereskan bekas tidur semalam
dan langsung menerjang aspal kembali, dari Surabaya terpampang jelas plang
menuju Banyuwangi target kita sampai dikota itu sore agar malam harinya kita
sudah sampai diriuh pulau Bali, diperjalanan co-pilot bilang kalau ada salah
satu teman juga yang akan berlibur bersama keluarganya. Pagi ini saya kembali
yang pegang kendali kemudi hanya beberapa jam kita berhasil keluar dari kota
Surabaya, jalanan memang lurus dan renggang tapi gersang membakar kulit dan
ambisi agar cepat sampai tujuan. Apa salahnya saat diperjalanan sambil
menikmati kearifan lokal penduduk atau anugrah tuhan menata alam, mata ini tertuju
oleh torehan tulisan Wisata Lumpur ternyata kita sudah sampai di Sidoarjo
kurang dari Dua jam riding, kita menepi kepinggir kiri untuk melihat tragedy
alam yang belum selesai permasalahannya sampai sekarang, musibah yang cukup
menghancurkan banyak hati penduduk setempat. Ketika sampai dan membayar Lima
Ribu Rupiah kepada palang pintu, saya langsung melihat lautan lumpur yang
katanya masih ada yang aktif menyembur ntah sampai kapan atau ntah sampai
berapa luas lagi akan membentuk lautan dan berapa orang lagi yang akan termakan
pilu musibah ini, saya hanya berdoa semoga musibah ini akan cepat berakhir dan
tidak meluas lagi. Kita teruskan lagi perjalanan ini jam demi jam beringingan
dengan waktu yang tak mungkin mundur, kabupaten ke kabupaten kita lewati, ladang dan sawah, pabrik-pabrik yang serakah
berdiri, juga hembusan angin pantai yang kadang membuat kita bergoyang, gunung
yang seakan selalu mengikuti laju motor ini. Situbondo angin laut mu sangat
menawan memanggil kita untuk singgah sesaat, bukan untuk menikmati pinggir
pantaimu yang panas tentunya karna Vespa saya tiba-tiba meradang ditempat karna
drat tromol belakang habis terkikis dan saya tidak sadar, selepas dari Sidoarjo
saya minta tukar dengan co pilot. Ini pertama kalinya saya mendapat masalah seperti
ini dan seketika panik, masih untungnya ini bukan malam hari dan ditengah
hutan. Saya yang panik langsung menelfon berharap minta bantuan, tempat itu
jauh dari bengkel dan anak Vespa yang lewat sehingga salah satunya adalah
memperbaiki sendiri, berkutak-kutik untuk menambah derat akhirnya serabut rem
belakang saya potong dan saya selipkan perlahan-lahan akhirnya setelah Empat
jam Vespa saya bisa kembali ke aspal hehehe. Pas saya berkabar via telfon
sebenarnya saya tidak disarankan untuk melanjutkan perjalanan, karna beberapa
jam didepan saya akan melewati hutan dan disitu mereka bilang itu hutan yang
angker juga begal, dari trouble itu kendali saya yang pegang lagi, mengurangi
kecepatan mungkin adalah cara agar kita bisa tetap sampai tanpa ada trouble
lagi berhubung juga jalan yang semakin gelap karna sudah akan memasuki magrib.
Sebelum masuk hutan kita cari pom
bensin. Oli samping yang saya bawa Dua botol ternyata kurang, akhirnya saya
putuskan untuk beli Satu botol lagi setelah isi bensin kita prepare lagi
sticklamp dan headlamp kita nyalakan sebagai tambahan penerangan kurang dari
Tiga Puluh Menit kita masuk hutan Baluran, saya rasa ini tanjakan pertama
selama perjalanan karna kita lewat pantura yang hanya lurus saja itu
membosankan, mulai menanjak tentu hati ini ngeri-ngeri sedap karna dikilo meter
pertama hutan ini juga ada stand mie sedap. Ntah apa yang menarik perhatian
saya untuk melihat ke atas, ternyata ada banyak bintang yang ikut menemani
melalui hutan ini, mempertegas saya untuk harus keluar dari hutan ini kurang
dari Dua jam, jalanan sangat gelap jarang ada yang melalui jalan ini pas malam
hari mobil pun melibas habis tidak kurang dari Enam Puluh kilo meter perjam,
statis tidak pelan tidak ngebut karna selain tromol yang sore tadi bermasalah
juga jarak pandang saya yang sulit dikontrol menjadi perhitungan saya untuk
tetap safety akhirnya kita keluar hutan Satu setengah jam dan tos kebahagiaan.
Yeah! Setelah dari ini selamat datang Banyuwangi yang dijalannya beberapa kali
seperti disambut dengan kembang api penduduk lokal, memasuki kota ini kita
hanya menikmati malam dengan tidak terlalu terburu-buru dan akhirnya kita
sampai di Pelabuhan Ketapang Delapan malam. Im coming Bali……..
Setelah mengantri untuk menyebrang
akhirnya kita sudah masuk didalam kapal, Satu jam untuk menyebrang Ketapang -
Gilimanuk turun dari kapal sempat berapa menit direpotkan aparat yang berjaga
dipos pelabuhan, secara hukum pajak kendaraan yang mati tidak ada sangkut
pautnya dengan aparat kepolisian hanya kecot sedikit akhirnya kita melanjutkan
perjalan ke Bali kota. Hawa di Bali terasa beda begitu kita turun kapal
ternyata masih ada hutan yang harus kita lalui, dari Gilimanuk ke Bali kota
lumayan memakan waktu sekitar Empat jam, saya yang sudah kelelahan bawa motor
dari Situbondo mengajak tukar posisi, disitu saya mengantuk parah karna tidur
yang diporsir minim mengejar waktu terlebih dikemarin malamnya sebelum masuk
Surabaya saya sempat mengigau dimotor akhirnya saya menyarankan untuk tidur,
selama diperjalanan sudah masuk Bali angin seperti kuat sekali menerpa badan
ini sebelah kanan tidak nampak apa-apa karna gelap hanya hembusan angin yang
rutin dan pasti, seketika sudah tidak kuat menahan untuk tertidur akhirnya kita
menemukan posko mudik dan tempatnya sangat lumayan untuk beristirahat akhirnya
kita menuntaskan kelelahan sampai besok paginya.
Bangun tidur paling berbeda selain
saya sudah sampai Bali akhirnya, ketika melihat kebelakan tempat semalam kita
beristirahat ada pantai yang indah bersama riuh ombak melambai. Prepare kita
percepat pagi itu dan langsung bergegas kembali, semalam saya yang disarankan untuk
mencari tromol di Bali karna kejadian ini tidak ingin bertambah parah ketika
pulang nanti, akhirnya sembari menuju bali kota singgahlah kita di D’ayam
bengkel Vespa dipelosokan kabupaten Bali, disitu saya minta tolong tromol bekas
pun tidak apa-apa setidaknya agar kita Empat hari kedepan bisa pulang lagi
kerumah. Lagi-lagi ini kearifan local penduduk yang baik hati tromol dijual
tidak terlalu mahal kalau tidak salah hanya Empat puluh ribu rupiah waktu itu.
Kuta Rock City sampai juga dipantai ini, norak sekali memang untuk orang yang
baru pertama ke Bali seperti saya langsung foto didepan tugu pantai Kuta
bersama Vespa dan memamerkannya ke grup KATS ini adalah pembuktian Dua hari
setengah perjalanan dan saya berhasil sampai juga.
Have fun have fun have fun, itu
yang harus kita lakukan sekarang. Masuk kedalam pantai Kuta langsung saya
ceburkan badan ini dan bermain bersama ombak tidak lama memang karna fokus saya
terpecah antara ombak dan tourist yang sedang asik berjemur dengan bikininya.
Terlalu lama ditempat ini juga tidak baik karna kita di Bali cuman akan sampai
besok siang, sore itu kita menuju GWK tidak disangka biaya masuk wisata patung
ini mahal sekali Lima puluh ribu rupiah untuk domestik, akhirnya kita hanya
didepan dan beralih kebawah patung yang masih akan dibangun. Mencari mini
market untuk santai sejenak, tidak lengkap tanpa si botol kaca dan sore itu
kita bersulang merayakannya. Malam itu kita kembali ke Bali kota, berhubung
seorang teman dan keluarganya juga ada disini kita sambangin untuk bertemu
kebetulan dia berjanji akan mentraktir makan apapun di Bali jika kita benar
sampai dengan Vespa. Akhirnya makan mahal juga setelah berapa hari dijalan kita
makan seadanya saja, beer gratis, rokok dan snack gratis terbayar sudah
dipantai Kuta yang pasang. Bali bergema dengan caranya sendiri untuk menikmati
malam, buat yang pergi dengan fasion gembel seperti kita tentu uang adalah
batas agar bisa sampai pulang lagi. Malam itu kita tidur didepan home stay
teman kita, bangun tidur disambut teh hangat juga roti bakar gratisan home stay.
Sebelom terlalu siang kita prepare buat cabut dari Bali dan pamit sama kedua
orang tua temen kita, tapi masih ada Satu tempat lagi yang pengen kita
kunjungin di Bali yaitu Tanah Lot sekalian beli oleh-oleh dipasar seni dan
terusnya kita pulang. Siang sekitar Dua belas kita udah cabut menuju pelabuhan,
dari Tanah Lot kepelabulan Gilimanuk saya gas abis Cuma Tiga jam waktu
perjalan, dijalan pulang indah banget gak kaya malem pas kita sampe di Bali
waktu itu menepi diaspal kiri laut Bali Indonesia memang luar biasa. Pas banget
jam Enam sore kita udah dipelabulan Ketapang klo enggak cepet digas nanti kita
masuk hutan Baluran keburu malam, ditengah perjalanan hutan yang lebat ternyata
gelap lebih cepat datangnya dan dihutan itu lagi banyak bintang yang menemani
perjalanan kita. Cek point hari ini kita harus sampe di Surabaya lagi,
selepasnya dari Probolinggo saya minta tukeran karna udah capek bawa motor akhirnya
co-pilot lah yang bawa saya menuju cek point di Surabaya, malem ini sampe di
Surabaya saya penasaran sama yang namanya Gang Dolly tempat prostitusi terbesar
se-Asia katanya akhirnya setelah browsing alamat Dolly kita menuju kesana,
jangan berfikir negative dulu saya hanya ingin melihat bagaimana tempat itu
karna peberitaan yang terus menerus sebelum bulan puasa itu lah yang
menyebabkan saya ingin tahu bagaimana sebenarnya tempat prostitusi itu, pas
kita sampai disana ternyata Dolly memang sudah tutup hanya ada kios-kios kecil
yang buka tanpa ada PSK yang mangkal disana dan malam itu setelah melihat-lihat
kita keluar dari gang Dolly dan mencari pom bensin untuk tidur.
Sekarang bangun tidur jadi agak
lebih siang, mungkin karna kita berdua sudah kelelahan akhirnya sekitar pukul
Delapan pagi kita lanjut lagi hari ini kita harus udah sampe diperbatas Jawa
tengah, tetap berusaha konstan malam hari sekitar jam Tujuh kita udah di
Semarang kota yang saya ingat saya lewat depan Lawang Sewu penjara peninggalan
Belanda kita gak mampir hanya numpang lewat saja, lanjut dan saya gak tau klo
kita lewat Alas Roban malam hari, Alas Roban rame banget jadi ketutup cerita
mistisnya disitu saya mengantuk parah dan sering tertidur. Keluar Alas Roban
kita disekitar jam Sebelas malam dan langsung mencari tempat buat istirahat
kembali, sekarang kaya lebih gak maksain ngeliat kondisi yang emang udah capek
akhirnya kita tidur dipinggir jalan samping pom bensin lebih awal. Pagi
besoknya gak pake banyak cerita kita langsung gas lagi, jalanan macet parah
sama arus balik mudik benar-benar merembet pelan kita naik motor saja kaya udah
enggak bisa nyelip karna padet gimana mobil yang harus stag. Gak berasa kita
udah sampe di Tegal, pertama kali sama makan Warteg yang bener-bener di kota
Tegal, sama aja sih rasanya cuman unik aja hehehe. Karawang hari ke Tujuh udah
sampe sini kayanya langsung pengen goyang Karawang aja perasaan kemaren masih
di Bali dan sebentar lagi sampe di Bekasi, pas Di Karawang Vespa saya kehabisan
bensin tengah malem untung ada anak Vespa yang bantuin kita dorong sampe bensin
eceran dari situ kita jalan santai dan kembali kerumah.
Sebenarnya bukan Bali yang mau saya
ceritakan disini, tapi prosesnya lah untuk sampai ke Bali dengan Vespa. Bisa
saja saya sebenarnya ke Bali dengan naik pesawat atau ngeteng kereta, bis dan
kapal. Namun disini sebenarnya konsepsi kebahagiaan saya terwujud, rasa lelah
perjalan terbayar dengan cerita ini yang akan saya selalu banggakan sampai
kapan pun.
(Ogay - Dilli) photo by; Dilli
(Dilli) photo by; Ogay
(trouble) photo by; Dilli
(Ogay - Dilli) photo by: Elub
(Ogay - Dilli) photo by; Minta Tolong
Tanah Lot (Ogay - Dilli) photo by: Minta Tolong
foto-foto lainnya silakan cek dibawah ini.